Minggu, 27 November 2016

Distributor, pedagang elektronik dan mainan anak tanpa SNI terancam dipidana

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menemukan 140 merek produk elektronik dan mainan anak tidak memiliki label Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga dapat merugikan masyarakat di daerah itu.

"Kami telah memberikan teguran keras kepada distributor dan pedagang yang menjual produk elektronik dan mainan anak yang tidak ber-SNI itu," kata Kepala Seksi Pengadaan dan Penyaluran Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Babel Marhoto di Pangkalpinang, Rabu.

Ia menjelaskan pada kegiatan inspeksi mendadak beberapa waktu lalu, ditemukan produk elektronik seperti mesin cuci, air, korek api dan produk mainan anak-anak yang tidak ber-SNI di gudang distributor dan pedagang pasar tradisional dan modern.

"Kami akan mengambil tindakan tegas dan mempidanakan distributor dan pedagang yang membandel menjual barang-barang yang tidak ber-SNI ini," katanya.

Ia mengatakan pedagang yang menjual produk tanpa label SNI melanggar Undang-undang Perlindungan Konsumen dan Undang-undang Perdagangan dengan ancaman pidana maksimal lima tahun penjara dan denda Rp10 miliar.

"Semua produk elektronik, tekstil dan mainan anak yang dipasarkan wajib ber-SNI agar keamanan produk terjamin dan tidak bertentangan dengan Undang-undang perlindungan konsumen," katanya.

Untuk itu, pihaknya terus melakukan pengawasan wajib SNI untuk produk-produk yang selama ini membanjiri pasar dalam negeri, agar keamanaan penggunaan produk lebih terjamin dan produk tersebut memiliki nilai tambah serta dapat bersaing di pasar internasional.

"Kami telah membentuk tim reaksi cepat terus mengawasi dan menindak pelaku usaha yang menjual produk tidak ber-SNI, agar masyarakat terlindungi dari berbagai produk tidak ber-SNI yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan konsumen," ujarnya.

http://www.antaranews.com/berita/597752/distributor-pedagang-elektronik-dan-mainan-anak-tanpa-sni-terancam-dipidana

Produk Pangan Ber-SNI Masih Sangat Minim

Persoalan keamanan pangan masih menjadi momok di masyarakat. Padahal, idealnya, produk pangan yang beredar di masyarakat harus memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) produksi dan produk yang ditetapkan Badan Standardisasi Nasional (BSN). 

Dari sekitar 68 ribu pelaku usaha pengolahan pangan, baru 700-an yang sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Artinya, masih ada puluhan ribu yang belum memenuhi standar produksi maupun produk sesuai ketentuan Badan Standardisasi Nasional (BSN). 

”Maka itu, kami bersinergi dengan BPOM dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melakukan pembinaan kepada pelaku usaha mikro dan makro di bidang kelautan dan perikanan agar sadar produk ber-SNI,” jelas Kepala BSN Bambang Prasetya dalam talkshow; Pentingnya Penerapan Standar Keamanan Pangan dan Regulasi pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Pangan, di Jakarta, kemarin (23/11). 

Kerja sama tersebut baru dilaksanakan pertengahan tahun ini. Pihaknya baru melakukan pembinaan kepada 22 UKM, lima di antaranya sedang dalam proses mendapatkan SNI. 

Diakuinya, terdapat banyak kendala bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk mendapatkan sertifikasi SNI. Pasalnya, sebagian besar pelaku UKM tidak memiliki infrastruktur, saran dan prasarana produksi yang memadai. 

”Misalnya, soal kebersihan ruang produksi, dapur, ventilasi, sirkulasi udara. Belum lagi yang terkait proses pembuatan, kebersihan, dan lain sebagainya,” ulas Bambang. 
 
Belum lagi nanti terkait bahan baku produk. Penilaian SNI mencakup keamanan produk bebas dari mikroba/ bakteri, logam berat, ukuran protein dan lemak juga ada standarnya.
Sementara itu, Kepala BPOM Penny K. Lukito membenarkan pentingnya sinergi dalam melakukan pembinaan kepada UKM. ”Melalui pendampingan dan pembinaan UKM akan meningkatkan daya saing produk dan mengimbangi produk olahan dari luar negeri. Tidak bisa dipungkiri demand produk olahan luar masih sangat tinggi,” ungkapnya.
Karena itu, selain pembinaan, BPOM juga semakin ketat melakukan pengawasan produk olahan pangan. ”Kami akan berikan sanksi bagi pelaku usaha yang lalai menjaga keamanan pangan. Bisa sanksi administratif dengan mencabut izin edar, hingga sampai dibawa ke penindakan hukum,” tegasnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 menyebutkan jumlah UMKM pangan sebanyak 1.243.185 UMKM. Namun hasil survei yang dilakukan terhadap 1.504 usaha mikro kecil di 18 provinsi menunjukkan hanya 24,14 persen usaha mikro kecil yang mampu menerapkan cara produksi pangan sesuai standar keamanan pangan.
Ini khusus untuk UMKM perikanan, data BPS 2015 menunjukkan angka sebanyak 60.885 UMKM. Jumlah yang luar biasa banyak dan mendominasi pasar dalam negeri. Namun hanya 137 UMKM perikanan (0,2 persen) yang mampu memenuhi cara-cara pengolahan yang hieginis sesuai GMP (Good Manufacturing Practices) dan menerapkan SSOP (Sanitation Standard Operating Prosedure).
 
http://www.jawapos.com/read/2016/11/24/66429/produk-pangan-ber-sni-masih-sangat-minim

Baru Ada Tiga Pasar Rakyat Sudah Tersertifikasi SNI

Dalam upaya untuk memperbaiki pengelolaan pasar rakyat menjadi lebih baik lagi agar mampu bersaing dengan gerai toko modern atau bahkan Mall, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Malang menggelar Sosialisasi SNI Pasar dan Pelatihan Manajemen Pemasaran hari ini, Senin (21/11) kepada Kepala Pasar dan Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Rakyat sekota Malang.

“Pasar Rakyat itu memiliki peran yang signifikan dalam perekonomian daerah, sehingga harus tetap survive dan tetap dicintai masyarakat yang menjadi konsumennya,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan kota Malang, Drs. Tri Widyani P. M.Si dalam sambutannya.

Dengan adanya pelatihan dan sosialisasi tersebut, pasar rakyat di kota Malang nantinya diharapkan bisa menjadi tempat transaksi jual beli yang bersih, murah dan lengkap sehingga akan tetap mendapat kunjungan masyarakat yang terus menjadi konsumen mereka karena kelebihan-kelebihan pasar rakyat tersebut.

Sementara itu, salah satu pemateri dari Direktorat Standardisasi dan pengendalian Mutu Kementrian Perindustrian dan Perdagangan Indonesia yaitu Michael I. J menyatakan bahwa sampai saat ini dari hampir 9 ribu pasar rakyat resmi yang ada di Indonesia ternyata baru ada tiga pasar saja yang sudah memenuhi sertifikasi SNI.

“Tiga pasar di Jakarta dan wilayah Jawa Barat tersebut merupakan pilot project Kementrian Perindustrian dan Perdagangan Indonesia, tetapi saat ini kita sedang melakukan penilaian terhadap lima pasar lagi yang mengajukan sertifikasi,” ujar Michael I.J. usai memberikan materi di hotel Savana kota Malang.

Pasar Rakyat di kota Malang diharapkan juga mampu menjadi diharapkan bisa memenuhi sertifikasi SNI yang menurut Michael I. J. hal tersebut justru akan menguntungkan para pedagang pasar rakyat itu sendiri karena masyarakat yang menjadi menjadi konsumen pasar rakyat akan lebih nyaman dan lebih memilih belanja di pasar rakyat karena lebih murah.
 
http://malangberita.net/baru-ada-tiga-pasar-rakyat-sudah-tersertifikasi-sni/

Selasa, 15 November 2016

Cerdas Tangkas soal SNI Semarakkan IQE 2016

Pengunjung membanjiri Indonesia Quality Expo (IQE) yang digelar mulai Selasa (8/11). Pada hari kedua (9/11), ajang pameran tentang penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) itu dikunjungi banyak pelajar sekolah menengah atas (SMA) maupun kejuruan (SMK).

Pameran yang diikuti 38 perusahaan/organisasi/lembaga ‎ini memamerkan berbagai produk berstandar (SNI/ISO) dan layanan informasi penilaian kesesuaian memang menarik minat pengunjung. Apalagi, dalam pameran disajikan talkshow tentang kisah sukses pelaku UKM yang menerapkan SNI, hiburan musik, cerdas tangkas, hingga berbagai door prize.

‎Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Bambang Prasetya mengungkapkan, pelaksanaan IQE tahun ini didukung oleh pemangku kepentingan di antaranya Siemens Indonesia, IAPMO, Pertamina Lubricants, Balai Sertifikasi Industri, PT. Antam, PT. Petrokimia Gresik. Yang menarik, pada IQE tahun ini ada cerdas tangkas SNI dengan peserta siswa SMA se-Jabodetabek.

"Pengetahuan tentang SNI tidak hanya dibutuhkan orang dewasa atau yang sudah bekerja. Siswa pun harus tahu agar ketika membeli suatu produk, mereka bisa membedakan produk yang punya standardisasi dan mana yang tidak," kata Bambang saat pelaksanaan Cerdas Tangkas SNI di pameran IQE, Rabu (9/11).

Bambang menambahkan, IQE yang menampilkan industri-industri penerap SNI dan lembaga penilaian kesesuaian terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) merupakan momen yang sangat tepat untuk dimanfaatkan anak-anak sekolah menambah wawasan standardisasi.

Sedangkan Kepala Biro Hukum, Organisasi, dan Humas BSN, Budi Rahardjo mengatakan, ada 200-an anak sekolah yang berasal dari lima sekolah SMA/SMK di Jakarta, yaitu SMAN 3 Jakarta, SMK Yasda, SMKN 32, SMAN 26, SMA Muhamadiyah 5 adu pengetahuan dan ketangkasan tentang SNI.

Tiga sekolah akan berpartisipasi menjadi peserta cerdas tangkas. yaitu SMAN 3 Jakarta, SMKN 32 Jakarta, dan SMAN 26 Jakarta. Adapun SMA/SMK lainnya yaitu SMK Yasda dan SMA Muhammadiyah 5 Jakarta ditugaskan melakukan reportase ke seluruh stand pameran sehingga mendapatkan wawasan yang riil mengenai standardisasi.‎ 
 
http://www.jpnn.com/read/2016/11/09/479711/Cerdas-Tangkas-soal-SNI-Semarakkan-IQE-2016-

BSN Pastikan Ketersediaan 8.981 SNI Untuk 12 Sektor

Badan Sertifikasi Nasional (BSN) memastikan ketersediaan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk 12 sektor sesuai kebutuhan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Per bulan Juni 2016, SNI untuk 12 sektor yang berlaku adalah sebanyak 8.981 SNI. 

Kepala Biro Hukum, Organisasi, dan Humas BSN, Budi Rahardjo menuturkan, pihaknya terus mengembangkan SNI dan melakukan kaji ulang maksimal setiap 5 tahun sekali. "Pengembangan dan penerapan SNI didukung oleh ketersediaan 227 lembaga sertifikasi serta 1.171 laboratorium, lembaga inspeksi, dan penyelenggara uji profisiensi yang terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN)," ujarnya di Jakarta, Selasa, 8 November 2016.

Ketersediaan SNI tersebut meliputi 223 SNI Sektor Jasa Kesehatan, 20 SNI Sektor Jasa Penerbangan, 4 SNI Sektor Jasa Pariwisata, 285 SNI Sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-ASEAN), 90 SNI Sektor Jasa Logistik, 137 SNI Sektor Karet dan Produk Karet, 376 SNI Sektor Tekstil dan Produk Tekstil, 198 SNI Sektor Otomotif, 550 SNI Sektor Perikanan, 1000 SNI Sektor Produk Berbasis Agro, 251 SNI Sektor Produk Berbasis Kayu, dan 705 SNI Sektor Elektronika.

Dia menuturkan di era MEA saat ini faktor standard, technical regulation, dan conformity assesment memiliki peran penting untuk menentukan daya saing tenaga kerja Indonesia. Karena itu pihaknya menggelar Pameran Indonesia Quality Expo (IQE) yang berlangsung mulai 8-11 November 2016 mendatang untuk membangun kesadaran serta membangun budaya standararisasi dalam negeri. 

Pameran Indonesia Quality Expo (IQE) 2016, adalah yang ke-4 kalinya diselenggarakan oleh BSN. Pada ajang kali ini, selain didukung oleh 38 perusahaan, organisasi, dan lembaga mereka juga melibatkan pelajar, sebagai upaya edukasi SNI sedini mungkin pada level pelajar.
 
http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2016/11/09/bsn-pastikan-ketersediaan-8981-sni-untuk-12-sektor-384269

BSN sasar siswa SMA kenalkan pentingnya SNI

Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyasar siswa-siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mengenalkan pentingnya sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) pada setiap produk.

"Edukasi mengenai pentingnya SNI harus dilakukan sejak dini, karena sangat bermanfaat bagi anak tersebut," ujar Kepala BSN, Bambang Prasetya, di Jakarta, Selasa.

Edukasi SNI, lanjut dia, justru efektif dilakukan sejak usia remaja atau masa sekolah. Pengetahuan tentang standardisasi dan penilaian kesesuaian, tak hanya bermanfaat dalam kehidupan sehari-harinya, namun juga mempersiapkan diri remaja untuk menambah wawasan di bangku sekolah perguruan tinggi atau dunia kerja.

Oleh karena itu, BSN menyelenggarakan Cerdas Tangkas SNI yang diikuti sejumlah siswa SMA di Plasa Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta pada tanggal 9 - 11 November.

Cerdas Tangkas SNI dengan target anak SMA diharapkan dapat mendukung kualitas anak SMA/SMK dalam menghadapi dunia kerja atau melanjutkan ke perguruan tinggi. Pelaksanaan cerdas tangkas tersebut juga bertepatan dengan Pameran "Indonesia Quality Expo" (IQE).

"Momentum pameran IQE yang menampilkan industri-industri penerap SNI dan lembaga penilaian kesesuaian terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) sangat tepat dimanfaatkan anak-anak sekolah untuk menambah wawasan standardisasi," ujar Budi.

Kegiatan cerdas tangkas itu diikuti sebanyak 200 siswa yang berasal dari sejumlah sekolah di Jakarta. Para pemenang Cerdas Tangkas SNI akan mendapatkan hadiah produk ber-SNI yang disediakan oleh salah satu peserta pameran, PT Kencana Gemilang yang merupakan produsen peralatan rumah tangga merek Miyako.

Pameran IQE 2016, adalah yang keempat kalinya diselenggarakan setelah 3 tahun berturut-turut, sukses dilaksanakan oleh BSN. Dalam kegiatan pameran IQE 2016, selain didukung oleh 38 perusahaan di Indonesia yang memamerkan berbagai produk berstandar (SNI/ISO) dan layanan informasi penilaian kesesuaian.

http://www.antaranews.com/berita/595017/bsn-sasar-siswa-sma-kenalkan-pentingnya-sni

Mesin Laundry Karya Pemuda Bantul Raih SNI

Keprihatinan alat mesin laundry impor dengan harga yang tinggi menjadikan pemuda asal Bantul  Jokyakarta, Ashari berkreasi di bengkel kerjanya merakit sendiri mesin pencuci dengan harga lebih terjangkau. Pada bengkel tehnik Hari Mukti Teknik milik Ashari melibatkan pemuda dan remaja kampung Piyungan Bantul ini, bekerja dan berinovasi sehingga mampu memproduk mesin laundry diberi nama merek Kanaba,  dengan harga terjangku dan mampu bersaing dengan barang impor.

Ditemui di bengkel kerjanya beberapa waktu lalu, Ashari mengatakan, satu mesin lundy dan pengering membutuhkan waktu sekitar dua minggu lamanya pembuatan. Proses dari persiapan bahan, perancangan, perakitan sampai finishing dan dikerjakan tenaga 7 0rang dari sekitar Bantul.

Produk itu diklaim mampu bersaing dengan mesin impor, harganya jauh lebih murah dibawah 30 persen. Selain itu bahan yang digunakan dari dalam negeri serta tenaga kerja juga asal negeri sendiri, katanya.

Karya dan kerja kerasnya merakit mesin laundry dan mesin pengering kemudian meraih sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Penerapan SNI semakin memberi jaminan dan  rasa aman bagi produksinya menembus pasar global.

Ashari mengungkapkan, dengan menerapkan SNI,  usahanya akan  mampu menjaga produktivitas perusahaan. Selain itu, produknya juga lebih diterima pasar. “Ketika belum ada sertifikat SNI, konsumen masih banyak menanyakan spek mesin Kanaba. Sekarang setelah ada SNI, konsumen langsung percaya,” ujarnya.

Ada anggapan bahwa meraih SNI sulit di kalangan UMKM. Namun anggapan ini ditepis Ashari. Proses meraih sertifikasi SNI dirasa mudah. Kunci keberhasilan meraih sertifikasi SNI ialah komitmen.

 “Ikuti aturannya, penuhi prosedurnya, Insyaalah cepat,” ujarnya. Produk Kanaba  saat ini sudah digunakan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua dan Timor Leste. 

Dengan sertifikasi SNI ini, pangsa pasar untuk mesin laundry semakin menembus pasar nasional dan global. Target pasaran mesin ini adalah rumah sakit seluruh Indonesia, hotel seluruh Indonesia, pabrik garmen dan laundry profesional. 

Pembinaan penerapan SNI yang dilakukan BSN, sangat membantu mengarahkan UKMnya dalam melakukan proses produksi yang teratur, tersistematis sehingga produknya aman dan bermutu karena sudah sesuai SNI yang selaras dengan standar internasional. 

Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN) Bambang Prasetya juga hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa BSN kini tengah membangun role model UMKM penerap SNI, yang ditargetkan mencapai 10 ribu UMKM di tahun 2020. BSN bekerja sama dengan para stakeholders berkomitmen menghantarkan UKM sampai mendapatkan sertifikasi atau mendapatkan tanda SNI.

Langkah BSN ini pun diapresiasi baik oleh Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Azam Azman Natawijaya. Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, lanjut Azam.

BSN bekerja sama dengan kementerian/lembaga lainnya, diamanahkan untuk membina UMKM menerapkan standar dan meraih sertifikasi SNI. Ia pun setuju bahwa produk yang telah memenuhi SNI merupakan produk unggul, sehingga konsumen akan lebih percaya memilih barang tersebut. Demikian siaran pers dari BSN memberitakan. 

Direktur  Hari Mukti Teknik memproduksi mesin loundry dan mesin pengering merek Kanaba di Bantul Jokyakarta sedang memperlihatkan karyanya.
 
http://www.beritalima.com/2016/11/15/mesin-laundry-karya-pemuda-bantul-raih-sni/
 

Produk UKM Banyuwangi Ini Sudah Mendapat Sertifikasi SNI

PT Permodalan Nasional Madani (Persero)menggandeng Badan Standarisasi Nasional (BSN) dalam penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk yang dihasilkan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Salah satu mitra binaan PNM dari Banyuwangi, Nanang Edy, menerima sertifikasi SNI untuk produk batik khas Banyuwangi garapannya.

Direktur Utama PT PNM Parman Nataatmadja mengatakan sinergi yang terjalin antara PNM & BSN sejak tahun 2015 lalu terbukti efektif dalam menciptakan pelaku UMK yang berdaya saing tinggi.

Menurutnya, dengan penerapan SNI kepada tiap-tiap pelaku usaha diharapkan kedepannya produk dalam negeri mampu berjaya di negeri sendiri dan juga pasar global.

"PNM dan BSN sejak tahun lalu menginisiasi kerjasama agar standarisasi produk pelaku UMK terpenuhi,” Parman Nataatmadja, di Jakarta, Rabu (9/11/2016).

Parman menambahkan proses untuk mendapatkan sertifikasi SNI dari BSN tidaklah mudah. Pasalnya dibutuhkan waktu yang cukup lama serta pengawasan yang ketat untuk meraihnya.

“Pada hari ini salah satu mitra binaan terbaik kami, yaitu pak Nanang telah berhasil melalui proses panjang dalam meraih sertifikasi SNI," ungkap Parman.

PNM telah memiliki 73 kantor cabang, 668 Outlet Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM), & 312 kantor cabang Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) yang menjangkau 31 provinsi, di 421 kabupaten dan menjangkau 3.983 kecamatan.

Sejak 2016, PNM telah menyalurkan modal usaha kepada pelaku UMK sebesar Rp. 15,4 Triliun dengan penerima manfaat mencapai 239 ribu pelaku UMK se- Indonesia.

http://www.tribunnews.com/bisnis/2016/11/09/produk-ukm-banyuwangi-ini-sudah-mendapat-sertifikasi-sni