Selasa, 15 November 2016

Cerdas Tangkas soal SNI Semarakkan IQE 2016

Pengunjung membanjiri Indonesia Quality Expo (IQE) yang digelar mulai Selasa (8/11). Pada hari kedua (9/11), ajang pameran tentang penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) itu dikunjungi banyak pelajar sekolah menengah atas (SMA) maupun kejuruan (SMK).

Pameran yang diikuti 38 perusahaan/organisasi/lembaga ‎ini memamerkan berbagai produk berstandar (SNI/ISO) dan layanan informasi penilaian kesesuaian memang menarik minat pengunjung. Apalagi, dalam pameran disajikan talkshow tentang kisah sukses pelaku UKM yang menerapkan SNI, hiburan musik, cerdas tangkas, hingga berbagai door prize.

‎Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Bambang Prasetya mengungkapkan, pelaksanaan IQE tahun ini didukung oleh pemangku kepentingan di antaranya Siemens Indonesia, IAPMO, Pertamina Lubricants, Balai Sertifikasi Industri, PT. Antam, PT. Petrokimia Gresik. Yang menarik, pada IQE tahun ini ada cerdas tangkas SNI dengan peserta siswa SMA se-Jabodetabek.

"Pengetahuan tentang SNI tidak hanya dibutuhkan orang dewasa atau yang sudah bekerja. Siswa pun harus tahu agar ketika membeli suatu produk, mereka bisa membedakan produk yang punya standardisasi dan mana yang tidak," kata Bambang saat pelaksanaan Cerdas Tangkas SNI di pameran IQE, Rabu (9/11).

Bambang menambahkan, IQE yang menampilkan industri-industri penerap SNI dan lembaga penilaian kesesuaian terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) merupakan momen yang sangat tepat untuk dimanfaatkan anak-anak sekolah menambah wawasan standardisasi.

Sedangkan Kepala Biro Hukum, Organisasi, dan Humas BSN, Budi Rahardjo mengatakan, ada 200-an anak sekolah yang berasal dari lima sekolah SMA/SMK di Jakarta, yaitu SMAN 3 Jakarta, SMK Yasda, SMKN 32, SMAN 26, SMA Muhamadiyah 5 adu pengetahuan dan ketangkasan tentang SNI.

Tiga sekolah akan berpartisipasi menjadi peserta cerdas tangkas. yaitu SMAN 3 Jakarta, SMKN 32 Jakarta, dan SMAN 26 Jakarta. Adapun SMA/SMK lainnya yaitu SMK Yasda dan SMA Muhammadiyah 5 Jakarta ditugaskan melakukan reportase ke seluruh stand pameran sehingga mendapatkan wawasan yang riil mengenai standardisasi.‎ 
 
http://www.jpnn.com/read/2016/11/09/479711/Cerdas-Tangkas-soal-SNI-Semarakkan-IQE-2016-

BSN Pastikan Ketersediaan 8.981 SNI Untuk 12 Sektor

Badan Sertifikasi Nasional (BSN) memastikan ketersediaan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk 12 sektor sesuai kebutuhan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Per bulan Juni 2016, SNI untuk 12 sektor yang berlaku adalah sebanyak 8.981 SNI. 

Kepala Biro Hukum, Organisasi, dan Humas BSN, Budi Rahardjo menuturkan, pihaknya terus mengembangkan SNI dan melakukan kaji ulang maksimal setiap 5 tahun sekali. "Pengembangan dan penerapan SNI didukung oleh ketersediaan 227 lembaga sertifikasi serta 1.171 laboratorium, lembaga inspeksi, dan penyelenggara uji profisiensi yang terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN)," ujarnya di Jakarta, Selasa, 8 November 2016.

Ketersediaan SNI tersebut meliputi 223 SNI Sektor Jasa Kesehatan, 20 SNI Sektor Jasa Penerbangan, 4 SNI Sektor Jasa Pariwisata, 285 SNI Sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-ASEAN), 90 SNI Sektor Jasa Logistik, 137 SNI Sektor Karet dan Produk Karet, 376 SNI Sektor Tekstil dan Produk Tekstil, 198 SNI Sektor Otomotif, 550 SNI Sektor Perikanan, 1000 SNI Sektor Produk Berbasis Agro, 251 SNI Sektor Produk Berbasis Kayu, dan 705 SNI Sektor Elektronika.

Dia menuturkan di era MEA saat ini faktor standard, technical regulation, dan conformity assesment memiliki peran penting untuk menentukan daya saing tenaga kerja Indonesia. Karena itu pihaknya menggelar Pameran Indonesia Quality Expo (IQE) yang berlangsung mulai 8-11 November 2016 mendatang untuk membangun kesadaran serta membangun budaya standararisasi dalam negeri. 

Pameran Indonesia Quality Expo (IQE) 2016, adalah yang ke-4 kalinya diselenggarakan oleh BSN. Pada ajang kali ini, selain didukung oleh 38 perusahaan, organisasi, dan lembaga mereka juga melibatkan pelajar, sebagai upaya edukasi SNI sedini mungkin pada level pelajar.
 
http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2016/11/09/bsn-pastikan-ketersediaan-8981-sni-untuk-12-sektor-384269

BSN sasar siswa SMA kenalkan pentingnya SNI

Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyasar siswa-siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mengenalkan pentingnya sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) pada setiap produk.

"Edukasi mengenai pentingnya SNI harus dilakukan sejak dini, karena sangat bermanfaat bagi anak tersebut," ujar Kepala BSN, Bambang Prasetya, di Jakarta, Selasa.

Edukasi SNI, lanjut dia, justru efektif dilakukan sejak usia remaja atau masa sekolah. Pengetahuan tentang standardisasi dan penilaian kesesuaian, tak hanya bermanfaat dalam kehidupan sehari-harinya, namun juga mempersiapkan diri remaja untuk menambah wawasan di bangku sekolah perguruan tinggi atau dunia kerja.

Oleh karena itu, BSN menyelenggarakan Cerdas Tangkas SNI yang diikuti sejumlah siswa SMA di Plasa Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta pada tanggal 9 - 11 November.

Cerdas Tangkas SNI dengan target anak SMA diharapkan dapat mendukung kualitas anak SMA/SMK dalam menghadapi dunia kerja atau melanjutkan ke perguruan tinggi. Pelaksanaan cerdas tangkas tersebut juga bertepatan dengan Pameran "Indonesia Quality Expo" (IQE).

"Momentum pameran IQE yang menampilkan industri-industri penerap SNI dan lembaga penilaian kesesuaian terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) sangat tepat dimanfaatkan anak-anak sekolah untuk menambah wawasan standardisasi," ujar Budi.

Kegiatan cerdas tangkas itu diikuti sebanyak 200 siswa yang berasal dari sejumlah sekolah di Jakarta. Para pemenang Cerdas Tangkas SNI akan mendapatkan hadiah produk ber-SNI yang disediakan oleh salah satu peserta pameran, PT Kencana Gemilang yang merupakan produsen peralatan rumah tangga merek Miyako.

Pameran IQE 2016, adalah yang keempat kalinya diselenggarakan setelah 3 tahun berturut-turut, sukses dilaksanakan oleh BSN. Dalam kegiatan pameran IQE 2016, selain didukung oleh 38 perusahaan di Indonesia yang memamerkan berbagai produk berstandar (SNI/ISO) dan layanan informasi penilaian kesesuaian.

http://www.antaranews.com/berita/595017/bsn-sasar-siswa-sma-kenalkan-pentingnya-sni

Mesin Laundry Karya Pemuda Bantul Raih SNI

Keprihatinan alat mesin laundry impor dengan harga yang tinggi menjadikan pemuda asal Bantul  Jokyakarta, Ashari berkreasi di bengkel kerjanya merakit sendiri mesin pencuci dengan harga lebih terjangkau. Pada bengkel tehnik Hari Mukti Teknik milik Ashari melibatkan pemuda dan remaja kampung Piyungan Bantul ini, bekerja dan berinovasi sehingga mampu memproduk mesin laundry diberi nama merek Kanaba,  dengan harga terjangku dan mampu bersaing dengan barang impor.

Ditemui di bengkel kerjanya beberapa waktu lalu, Ashari mengatakan, satu mesin lundy dan pengering membutuhkan waktu sekitar dua minggu lamanya pembuatan. Proses dari persiapan bahan, perancangan, perakitan sampai finishing dan dikerjakan tenaga 7 0rang dari sekitar Bantul.

Produk itu diklaim mampu bersaing dengan mesin impor, harganya jauh lebih murah dibawah 30 persen. Selain itu bahan yang digunakan dari dalam negeri serta tenaga kerja juga asal negeri sendiri, katanya.

Karya dan kerja kerasnya merakit mesin laundry dan mesin pengering kemudian meraih sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Penerapan SNI semakin memberi jaminan dan  rasa aman bagi produksinya menembus pasar global.

Ashari mengungkapkan, dengan menerapkan SNI,  usahanya akan  mampu menjaga produktivitas perusahaan. Selain itu, produknya juga lebih diterima pasar. “Ketika belum ada sertifikat SNI, konsumen masih banyak menanyakan spek mesin Kanaba. Sekarang setelah ada SNI, konsumen langsung percaya,” ujarnya.

Ada anggapan bahwa meraih SNI sulit di kalangan UMKM. Namun anggapan ini ditepis Ashari. Proses meraih sertifikasi SNI dirasa mudah. Kunci keberhasilan meraih sertifikasi SNI ialah komitmen.

 “Ikuti aturannya, penuhi prosedurnya, Insyaalah cepat,” ujarnya. Produk Kanaba  saat ini sudah digunakan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua dan Timor Leste. 

Dengan sertifikasi SNI ini, pangsa pasar untuk mesin laundry semakin menembus pasar nasional dan global. Target pasaran mesin ini adalah rumah sakit seluruh Indonesia, hotel seluruh Indonesia, pabrik garmen dan laundry profesional. 

Pembinaan penerapan SNI yang dilakukan BSN, sangat membantu mengarahkan UKMnya dalam melakukan proses produksi yang teratur, tersistematis sehingga produknya aman dan bermutu karena sudah sesuai SNI yang selaras dengan standar internasional. 

Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN) Bambang Prasetya juga hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa BSN kini tengah membangun role model UMKM penerap SNI, yang ditargetkan mencapai 10 ribu UMKM di tahun 2020. BSN bekerja sama dengan para stakeholders berkomitmen menghantarkan UKM sampai mendapatkan sertifikasi atau mendapatkan tanda SNI.

Langkah BSN ini pun diapresiasi baik oleh Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Azam Azman Natawijaya. Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, lanjut Azam.

BSN bekerja sama dengan kementerian/lembaga lainnya, diamanahkan untuk membina UMKM menerapkan standar dan meraih sertifikasi SNI. Ia pun setuju bahwa produk yang telah memenuhi SNI merupakan produk unggul, sehingga konsumen akan lebih percaya memilih barang tersebut. Demikian siaran pers dari BSN memberitakan. 

Direktur  Hari Mukti Teknik memproduksi mesin loundry dan mesin pengering merek Kanaba di Bantul Jokyakarta sedang memperlihatkan karyanya.
 
http://www.beritalima.com/2016/11/15/mesin-laundry-karya-pemuda-bantul-raih-sni/
 

Produk UKM Banyuwangi Ini Sudah Mendapat Sertifikasi SNI

PT Permodalan Nasional Madani (Persero)menggandeng Badan Standarisasi Nasional (BSN) dalam penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk yang dihasilkan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Salah satu mitra binaan PNM dari Banyuwangi, Nanang Edy, menerima sertifikasi SNI untuk produk batik khas Banyuwangi garapannya.

Direktur Utama PT PNM Parman Nataatmadja mengatakan sinergi yang terjalin antara PNM & BSN sejak tahun 2015 lalu terbukti efektif dalam menciptakan pelaku UMK yang berdaya saing tinggi.

Menurutnya, dengan penerapan SNI kepada tiap-tiap pelaku usaha diharapkan kedepannya produk dalam negeri mampu berjaya di negeri sendiri dan juga pasar global.

"PNM dan BSN sejak tahun lalu menginisiasi kerjasama agar standarisasi produk pelaku UMK terpenuhi,” Parman Nataatmadja, di Jakarta, Rabu (9/11/2016).

Parman menambahkan proses untuk mendapatkan sertifikasi SNI dari BSN tidaklah mudah. Pasalnya dibutuhkan waktu yang cukup lama serta pengawasan yang ketat untuk meraihnya.

“Pada hari ini salah satu mitra binaan terbaik kami, yaitu pak Nanang telah berhasil melalui proses panjang dalam meraih sertifikasi SNI," ungkap Parman.

PNM telah memiliki 73 kantor cabang, 668 Outlet Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM), & 312 kantor cabang Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) yang menjangkau 31 provinsi, di 421 kabupaten dan menjangkau 3.983 kecamatan.

Sejak 2016, PNM telah menyalurkan modal usaha kepada pelaku UMK sebesar Rp. 15,4 Triliun dengan penerima manfaat mencapai 239 ribu pelaku UMK se- Indonesia.

http://www.tribunnews.com/bisnis/2016/11/09/produk-ukm-banyuwangi-ini-sudah-mendapat-sertifikasi-sni

Kamis, 27 Oktober 2016

Waspada Sertifikat SNI Palsu

Masyarakat diminta waspada dengan promosi sertifikasi yang beredar di media sosial maupun iklan. Modus itu menjanjikan tawaran menarik, sehingga pengusaha atau personel tidak perlu susah payah menjalani rangkaian pengujian sertifikasi.

“Mutu nasional di Indonesia harus melewati standar sertifikasi yang dipercaya, bukan sertifikasi distrust. Saya lihat banyak promosi sertifikasi bak supermarket, buy one get two,” kata Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Prof Bambang Prasetya dalam seminar, Selasa (4/10) lalu.

‎Dia menegaskan, BSN telah menetapkan standardisasi ‎barang dan jasa, personel. Jangan sampai ada sertifikat abal-abal.

“Masyarakat jangan percaya promosi-promosi sertifikasi yang distrust. Contohnya Desember ceria, bayar satu dapat dua, cukup kirim CV dapat sertifikasi. Cara-cara ini sangat merugikan personel atau perusahaan yang mempekerjakan personel tersebut,” tuturnya.

Dia menegaskan, ‎salah satu solusi untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) adalah penerapan SNI ISO/IEC 17024. Dengan standardisasi 17024, akan meningkatkan kompetensi dan pengakuan internasional lembaga sertifikasi personel di Indonesia. 

“Masyarakat harus tahu cara memberikan sertifikasi bermutu harus menggunakan standar 17024, jadi bukan buy one get two,” tandasnya.
 
 
http://kaltim.prokal.co/read/news/280117-waspada-sertifikat-sni-palsu.html
 

IKM Mainan Anak Difasilitasi Dapatkan Sertifikat SNI

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kembali memfasilitasi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) mainan anak dan sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) untuk mendapatkan sertifikat standar nasional Indonesia (SNI). 

Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, SNI Wajib untuk IKM harus menjadi prioritas walaupun sebagian pelaku IKM belum siap. Hanya segelintir IKM yang mampu memenuhi SNI sehingga kalah bersaing dengan produk negara lain.

”SNI ini benar-benar penting karena itu perangkat untuk menahan barang-barang impor. Sekarang barang-barang impor tidak hanya dari China, tapi dari Vietnam juga mulai masuk,” ujarnya saat Workshop dan Fasilitasi Sertifikasi SNI Wajib Mainan Anak dan SVLK di Solo, Jawa Tengah. 

Kegiatan yang diselenggarakan Ditjen IKM Kemenperin dan PT Sucofindo (Persero) ini diikuti sebanyak 60 IKM. Nanti akan dipilih 10 IKM mainan anak dan 10 IKM produk kayu dan olahan kayu yang disertifikasi secara gratis. 

Direktur Komersial I Sucofindo M Heru Riza mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mendukung kebijakan pemerintah mengenai kemudahan berusaha bagi IKM sekaligus sebagai salah satu kontribusi Sucofindo dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. 

”Sertifikasi gratis ini diharapkan bisa membantu IKM tumbuh dan berkembang sehingga lebih mampu dalam menghadapi persaingan bisnis,” ujarnya. 

Menurutnya, secara kualitas produk IKM tidak kalah dengan produk dari negara lain. Namun, beberapa IKM belum memahami proses sertifikasi dan sebagian terkendala dengan biaya sertifikasi.


http://economy.okezone.com/read/2016/10/24/320/1522695/ikm-mainan-anak-difasilitasi-dapatkan-sertifikat-sni